CALL CENTER
(021) 837-95-216 / 0821-26-252-252
FOLLOW
@MIHRABQOLBI
LIKE FANPAGE
MIHRABQOLBI
Umum

Adab Ziarah Kubur

Oleh | Senin, 16 September 2019 12:48 WIB | 432 Views
Adab Ziarah Kubur

Ziarah kubur merupakan amalan yang sangat dianjurkan, apalagi makam orangtua sendiri. Secara umum, ziarah kubur memiliki tujuan untuk mengingat pada kematian. Hendaknya, kaum muslim tidak berlebihan dalam melakukan ziarah kubur. Untuk kamu yang ingin ziarah kubur, hendaknya memperhatikan adab-adab berikut ini yang kami rangkum dari berbagai sumber.

1. Memahami tujuan utama berziarah kubur

Ziarah kubur bertujuan untuk dapat mengambil pelajaran dan mengingat kematian. Tujuan utama ini harus senantiasa dipahami dan diingat oleh muslim yang hendak berziarah. Perlu diingat agar tidak terjerumus kepada tujuan-tujuan lain yang bisa menyesatkan ibadah atau melenceng dari keimanan terhadap Allah SWT.

Ziarah kubur sejatinya membuat diri kita senantiasa mengingat bahwa terbatasnya waktu hidup manusia dan kembalinya ke kubur tidak akan pernah membawa harta ataupun apa yang dimiliki di dunia kecuali amal ibadah. Jasad terurai dan ruh akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat. Sehingga kita tidak bisa lagi melakukan segala macam amal ibadah. Oleh karena itu, selama masih hidup hendaknya memperbanyak amalan-amalan ibadah.

2. Tidak boleh melakukan safar untuk berziarah

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah melakukan perjalanan jauh (dalam rangka ibadah) kecuali ke tiga masjid : Masjidil Haram, Masjid Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsha,” (Muttafaqun ‘alaihi dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

3. Mengucapkan salam ketika masuk

Ketika memasuki kuburan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan untuk mengucapkan salam.

“Assalamu’alaikum ahlad-diyaar minal mu’miniin wal muslim, wa inna insya Alloohu bikum la-laahiquun, wa as-alullooha lanaa walakumul ‘aafiyah” . Artinya semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam. Kami insya Allah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan para sahabat ketika keluar menuju kubur dengan membaca doa di atas. Hadits di atas dari Sulaiman bin Buraidah, dari bapaknya. (HR. Muslim, no. 975).

4. Tidak duduk dan menginjak atas kuburan

Ketika memasuki kuburan Rasulullah memerintahkan agar tidak duduk di atasnya atau menginjak kuburan. Hal ini sebagaimana disampaikan dalam hadist berikut.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh jika salah seorang dari kalian duduk di atas bara api sehingga membakar bajunya dan menembus kulitnya, itu lebih baik daripada duduk di atas kubur

5. Mendoakan mayat

Di dalam kuburan tentu boleh mendoakan orang yang sudah meninggal, agar diberi kesalamatan dan juga diterima segala amal baik yang telah dilakukannya. Terutama bagi seorang anak, doa untuk keluarga atau orang tua nya yang sudah meninggal tentu menjadi sesuatu yang diharapkan. Doa anak shaleh adalah salah satu doa yang akan dikabulkan oleh Allah, sebagai hasil didik orang tua yang telah membesarkannya.

Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika beliau mengutus Barirah untuk membuntuti Nabi yang pergi ke Baqi’ Al Gharqad. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhenti di dekat Baqi’, lalu mengangkat tangan beliau untuk mendo’akan mereka. Dan ketika berdo’a, hendaknya tidak menghadap kubur karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat menghadap kuburan. Sedangkan do’a adalah intisari sholat.

6. Tidak berbicara kasar atau hal yang bathil

Dijelaskan oleh Imam An-Nawawi bahwa tidak baik jika di dalam kuburan berbicara hal yang bathil atau buruk. Untuk itu diperkenankan berbicara yang baik dan mendoakan mayat yang baik-baik saja.

7. Tidak diperbolehkan menangis sampai meratapi mayat

Diperbolehkan menangis dalam kuburan, asalkan bukanlah menangis yang menyebabkan histeris dan hilang kesadaran diri. Tentu saja akan berakibat mudhorot atau pingsan yang menyebabkan tidak terkontrolnya diri dan emosi. Di sisi lain, ini menandakan tidak ada keikhlasan atas kepergiannya.



Umum Lainnya



Berikan Komentar Via Facebook