CALL CENTER
(021) 837-95-216 / 0821-26-252-252
FOLLOW
@MIHRABQOLBI
LIKE FANPAGE
MIHRABQOLBI
Umum

Berotak Jerman, Berhati Mekkah Selamat Jalan Prof. DR. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FReng

Oleh | Kamis, 12 September 2019 16:32 WIB | 554 Views
Berotak Jerman, Berhati Mekkah  Selamat Jalan Prof. DR. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FReng

“Berotak Jerman, berhati Mekkah” itulah ungkapan yang terucap guru saya sewaktu sekolah dasar tahun 90-an yang mengarah ke tokoh bangsa Indonesia yaitu eyang Habibie. Sebagai seorang bocah, tentu ungkapan tersebut tidak terlalu menancap di hati sebagian anak Indonesia. Namun, kebanyakan anak-anak se-Indonesia di zaman itu mengenal eyang Habibie sebagai insinyur pesawat, dimana pesawat merupakan benda berteknologi canggih yang hanya orang jenius yang bisa membuat. Di dekade 90-an tersebut, jika anak-anak Indonesia ditanya cita-citanya apa, “pengen jadi pak Habibie, agar bisa buat pesawat” merupakan cita-cita yang kerap terucap terutama setelah keberhasilannya menerbangkan Gatot kaca, N250.   

Habibie dan Keluarga

Bacharuddin Jusuf Habibie lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936. Beliau anak keempat dari delapan bersaudara. Orang tuanya adalah pasangan Bugis-Jawa, Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo. Kedua orang tua Habibie berasal dari keluarga terhormat dan terpelajar. Kakek Habibie adalah ulama Islam terkenal. Ayah Habibie adalah lulusan sekolah pertanian di Bogor. Pada 1948, Alwi Habibie menjabat sebagai Kepala Departemen Pertanian Negara Indonesia Timur. Sementara ibunya datang dari keluarga dokter. Pada 3 September 1950, ketika sedang mengimami salat Isya, ayah Habibie terjatuh dan meninggal dunia.

Pendidikan dan Karir

 Sejak kecil, Habibie menyukai mesin. Menurut Titi Habibie, jika ditanya “kalau besar mau jadi apa?” ia selalu menjawab, “Insinyur”. Pendidikan menengahnya ditempuh di HBS (horgere burger school). Di tengah jalan, tahun 1950, ia pindah ke Bandung dan sekolah di Gouvernements Middelbare School sampai 1951. Lalu lanjut ke Sekolah Menengah Atas Katolik dari 1951 sampai 1954.

Selama sekolah, kepandaian anak Parepare ini di bidang ilmu alam dan matematika sangat menonjol. Selepas SMA tahun 1954, ia masuk Departemen Mesin, Fakultas Teknik Universitas Indonesia (sekarang Institut Teknologi Bandung). Tapi tidak sampai selesai karena beliau mendapatkan tawaran untuk kuliah di Jerman.

Pada waktu itu, pemerintah Indonesia dibawah dibawah Soekarno gencar membiayai ratusan siswa cerdas Indonesia untuk bersekolah di luar negri menimba ilmu disana. Habibie adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Namun, berbeda dengan teman-teman mahasiswa Indonesia lainnya kuliah beasiswa oleh pemerintah Indonesia. Habibie kuliahnya dibiayai oleh ibunya, oleh karena itu, beliau harus menyelesaikan kuliah secepat mungkin. Beliau lalu melanjutkan kuliah di jurusan Konstruksi Pesawat Terbang di Rheinisch Westfählische Technische Hochschule (RWTH), Achen, Jerman Barat. Ia menyelesaikan jenjang S-1 hingga S-3 selama 10 tahun. Pada 1965,  meraih gelar doktor ingenieur (doktor teknik) dengan predikat summa cum laude.

Lulus diploma pada 1960, eyang Habibie kemudian bekerja sebagai asisten peneliti di Institut Kontruksi Ringan RWTH. Pada awal 1962, beliau cuti pulang ke Indonesia selama tiga bulan. Di Bandung, ia bertemu dengan teman SMA-nya, Hasri Ainun Basari. Tak lama kemudian, pada 12 Mei 1962, mereka menikah. Bersama Ainun, Habibie kembali ke Achen.

Setelah menyelesaikan pendidikan doktor teknik tahun 1965, Habibie mendapat dua tawaran. Pertama, menjadi pengajar di RWTH, kedua, bekerja di perusahaan pesawat Boeing. Setelah mempertimbangkan dengan istrinya, beliau menolak keduanya.

“Habibie kemudian mendaftar di perusahaan pembuat pesawat Hamburger Flugzeug Bau (HFB) yang tengah mengembangkan pesawat Fokker F28 dan Hansajet 320. Setelah HFB berganti nama menjadi Messerschmitt-Boelkow-Blohm (MBB), beliau diangkat sebagai Direktur Pengembangan dan Penerapan Teknologi, pada 1973. Jabatan tersebut adalah yang tertinggi di MBB yang pernah dijabat oleh orang asing.

Prestasi

Habibie menyumbang beragam hasil penelitian dan sejumlah teori untuk ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang termodinamika, konstruksi dan aerodinamika.

Beberapa rumusan teori yang ditemukan olehnya dikenal dalam dunia dirgantara seperti Habibie factor, Habibie theorem, dan Habibie method. Rumus Habibie factor bisa menghitung keretakan atau crack propagation on random sampai ke atom-atom peswata terbang sehingga ia dijuluki sebagai Mr Crack.

Kejeniusan dan prestasinya mengantarkan Habibie diakui Lembaga Internasional di antaranya, Gesselschaft fuer luft und Raumfahrt (Lembaga Penerbangan dan Angkasa luar) Jerman, The Royal Aeronautical Society London (Inggris), The Royal Swedish Academy of Engineering Sciences (Swedia), The Academie Nationale de I’Air et de I’Escape (Prancis) dan The US academy of Engineering (Amerika Serikat).

Sementara itu, penghargaan bergengsi yang pernah diraih Habibie di antaranya, Edward Warner Award dan Award Von Karman yang hampir setara dengan hadiah Nobel. Didalam negri Habibie mendapat penghargaan tertinggi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ganesha Praja Manggala Bhakti Kencana

Prestasi, dan perilaku Habibie telah menginspirasi sebagian besar anak Indonesia terutama anak muslim Indonesia. Ungkapan “berotak Jerman, berhati Mekkah” muncul karena beliau merupakan ilmuwan muslim yang taat beribadah serta model “integrasi iptek dan imtaq”, ilmu pengetahuan dan iman serta taqwa. Sebuah perpaduan yang menjadi model bagi generasi ilmuwan muslim saat ini,

Akhir kata dari kami, selamat jalan eyang Habibie. Semoga amal ibadahmu diterima di sisi Allah SWT.



Umum Lainnya



Berikan Komentar Via Facebook