CALL CENTER
(021) 83795216 / 081283831012
GABUNG TWITTER
MIHRABQOLBI
GABUNG FACEBOOK
MIHRABQOLBI
Umum

HIKMAH HAJI bersama Ust Lili Chumedi. S.Ag. M.Pd.I

Oleh | Kamis, 16 Agustus 2018 07:34 WIB | 180 Views
HIKMAH HAJI bersama Ust Lili Chumedi. S.Ag. M.Pd.I

Kisah Haji Mihrab
Jum'at 31 Agustus 2018

Pandai berterima kasih itu temanya...

Padahal sudah jelas yang beliau lakukan adalah kewajiban, namun orang lain melihatnya sebagai wujud perhatian.

Tugas beliau adalah membimbing ibadah, bagi seorang pembimbing sangat paham bahwa ada dirinya di tengah-tengah jama'ah haji atau umroh memiliki tanggung jawab bagaimana jama'ahnya paham dan termotivasi untuk mau dan mampu beribadah tidak hanya haji atau umroh.

Bahkan bagi yang sangat paham, sejatinya inilah kesempatan mendulang emas pahala membagi ilmunya dan mengajak jama'ahnya semakin mencintai Allah dan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam. Bisa dibayangkan jika jama'ahnya kembali berkumpul dengan keluarga, masyarakat dan lingkungan kerjanya makin soleh, taat dan bermanfaat, betapa bahagianya mereka.

Nah.. Sang pembimbing ini kaget begitu jama'ahnya kembali ke Indonesia ternyata (karena merasa terbimbing) menitipkan amplop terima kasih.

Hasrat taat yang terjawab karena terbimbing akan membuat jama'ah siapapun akan makin paham pentingnya menghargai jasa siapa saja. Sikap ini secara tidak langsung mengingatkan bahwa kemabruran haji atau umroh nampak dari sikapnya yang mampu menghargai... Termasuk pada pasangan, orang tua, keturunan, teman kerja atau tim kerja dan tetangga...

Sungguh pandai berterima kasih adalah ciri mereka yang pandai bersyukur pada Allah Azza wa Jalla...

Semoga bermanfaat...

Lili Chumedi
Pembimbing Umroh Haji Mihrab Qolbi
Wali Amanah Yatim Dhu'afa PINTAR

Jazaakumullaahu ahsanul jazaa untuk ayahanda, bunda dan sahabat donatur, orang tua asuh dan para pejuang wakaf...

Semoga Jum'at Barokah Allah anugerahkan rizki dan karunia yang halal, luas dan barokah....

Kisah Haji Mihrab / 24 Agustus 2018

Entah apa yang memotivasinya... Sesudah menyimak khutbah Arafah lepas wukuf lalu mabit di Muzdalifah.. Jama'ah Haji Sinergi Mihrab dan ESQ melanjutkan Thawaf Ifadah ke Mekkah...

Alhamdulillah rombongan 3 bis atau 114 jama'ah haji sinergi bisa menyelesaikan thawaf ifadahnya dan sekaligus mengikuti shalat sunnah Idul Adha di masjidilharam... Sungguh kenikmatan yang tiada nilanya..

Lepas dari itu kami semua kumpul di meeting point yg disepakati dan mendapatkan sarapan spesial terus kami lanjutkan ke Mina untuk melontar jumroh aqobah... Selesai lah tahallul awwal dan tahallul qubro... Alhamdulillah...

Berikutnya sejak malam tgl 11 dzulhijjah sampai 12 dzulhijjah kami mabit di Mina...

Saat sedang mabit inilah ada seorang jamaah sinergi datang menghampiri.. Lalu dia berkata, "Ust, saya mendengar di Arafah perbincangan Ust tentang pondok yatim dhu'afa penghafal alQuran bagi warga sekitar bahkan sampai mendapat beasiswa sekolah sampai kuliah? Berkenan saya meminta nomor rekening yayasan Pintar nya ? Tapi tolong jangan sebut nama saya, do'akan saja...."

Maasya Allah laa quwwata illaa billaah...
Hanya kuasa Allah dan kehendak-Nya menggerakkan hamba-hambaNya mau berinfaq walau sedang ada di Mina.. Langsung saja begitu sudah dapat nomor rekening Yayasan Pintar saat itu juga langsung transfer via mobile bankingnya...
Alhamdulillah...

Kesempatan amal di tempat terbaik dan waktu terhebat memang bagi mereka yang imannya kuat tidak akan dilewatkan...

Semoga Jum'at Barokah hari ini.. Allah memilih kita untuk berbuat taat dan manfaat...

Barokallaahu fiikum..
Wajazaakumullaahu khairan katsiro untuk donatur, orang tua asuh, para pequrban dan pejuang wakaf Pintar Peduli Yayasan Pintar Indonesia...

Semoga bermanfaat...

Mekkah, 13 Dzulhijjah/24 Agustus

Lili Chumedi
Pembimbing Umroh Haji Mihrab Qolbi
Sahabat Peduli & Berbagi...

 

*Arafah, Inabah dan Barokah*

Khutbah Arafah Haji 2018/1439 H
Oleh : H. Lili Chumedi S.Ag., M.Pd.I.

_Labbaika Allahumma Labbaik; Labbaika laa Syarika laka labbaik_ 
Hadirin yang dimuliakan Allah.

Saya teringat kalau berkumpul sekian banyak hamba-hamba Allah yang dikumpulan di padang Arafah hari ini dengan salah satu firman Allah dalam surat al Hajj ayat 27, yang artinya :
“Dan berserulah kepada seluruh manusia untuk mengerjakan haji….” Begitu potongan awal ayatnya..

Firman-Nya: wa adz-dzin fin naasi bil hajji (“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji,”) yaitu yang menyeru manusia untuk berhaji serta mengajak mereka untuk haji. Lalu, diceritakan bahwa Ibrahim berkata: “Ya Rabbku, bagaimana aku menyampaikan hal ini kepada manusia sedangkan suaraku tidak dapat menjangkau mereka?” Allah berfirman: “Berserulah, dan Aku yang akan menyampaikan.” Maka, Ibrahim berdiri di maqamnya, [satu pendapat mengatakan] di atas sebuah batu, yang lain mengatakan, di atas bukit Shafa dan yang lain mengatakan di atas Jabal Abu Qubaisy. Ibrahim berseru: “Hai manusia, sesungguhnya Rabb kalian telah menjadikan sebuah rumah maka berhajilah kalian.”

Disinilah kita menyadari dengan IMAN… bahwa kita bisa haji dan hari ini berkumpul di padang Arafah bukan karena kita mampu namun karena Allah memampukan dan mengundang kita.

Sampai-sampai ditegaskan saat kita menjawab undangan haji Allah dengan lafal talbiyah, “Bahwa saya menjawab undangan haji ini tidak menyekutukan Allah, saya pun menjawab undangan haji ini datang dengan penuh ketundukan bahwa saya haji tidak ingin pujian apalagi penghargaan, karena pujian dan penghargaan itu hanya milik Allah. Saya berhaji juga mengakui bahwa nikmat ini semua karena Allah bukan karena saya punya harta, kedudukan ataupun apapun karena semua itu yang mempunyai kekuasaan hanya Allah semata.”

Inilah kesadaran IMAN… pengakuan totalitas diri dengan haji diri bahwa semua itu karena karena karunia Allah Azza wa Jalla… kita ini tidak punya apa-apa…

_Labbaika Allahumma Labbaik; Labbaika laa Syarika laka labbaik_ 
Hadirin yang dimuliakan Allah.

Hari ini kita alhamdulillah hadir di padang Arafah yang banyak sekali kemuliaannya.

Pertama: *Hari Arafah adalah hari disempurnakannya agama dan nikmat.* Dalam shahihain (Bukhari-Muslim), ‘Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa ada seorang Yahudi berkata kepada ‘Umar,
“Ada ayat dalam kitab kalian yang kalian membacanya dan seandainya ayat tersebut turun di tengah-tengah orang Yahudi, tentu kami akan menjadikannya sebagai hari perayaan (hari ‘ied).” “Ayat apakah itu?” tanya ‘Umar. Ia berkata, “(Ayat yang artinya): Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” ‘Umar berkata, “Kami telah mengetahui hal itu yaitu hari dan tempat di mana ayat tersebut diturunkan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berdiri di ‘Arofah pada hari Jum’at.” (HR. Bukhari no. 45 dan Muslim no. 3017). At Tirmidzi mengeluarkan dari Ibnu ‘Abbas semisal itu. Di dalamnya disebutkan bahwa ayat tersebut turun pada hari ‘Ied yaitu hari Jum’at dan hari ‘Arofah.

Kedua : *Hari Arafah adalah hari pengampunan dosa dan pembebasan dari siksa neraka.* Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arofah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” (HR. Muslim no. 1348).

*Allah pun begitu bangga dengan orang yang wukuf di Arafah.* Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah berbangga kepada para malaikat-Nya pada sore Arafah dengan orang-orang di Arafah, dan berkata: “Lihatlah keadaan hambaku, mereka mendatangiku dalam keadaan kusut dan berdebu” (HR. Ahmad 2: 224. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya tidaklah mengapa).

Hadirin rahimakumullah,
_Labbaikallahumma labbaik, labbaika lasyarikalaka labbaik._

Hebatnya arafah sejatinya mengajak pada kita kembali pada Allah (inabah).

Berikut dalil yang menunjukkan bahwasanya inabah merupakan ibadah adalah perintah Allah dalam Kitab-Nya,
“Dan kembalilah kalian kepada Rabb kalian dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang kepada kalian azab kemudian kalian tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. az-Zumar: 54)

Hadirin rahimakumullah,
_Labbaikallahumma labbaik, labbaika lasyarikalaka labbaik._

Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang haji yang mabrur. Jawaban beliau,

إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الْكَلاَمِ

“Suka bersedekah dengan bentuk memberi makan dan memiliki tutar kata yang baik” (HR. Hakim)

Apakah konsistensi dalam beribadah, berdoa, dan bertawakal selama haji masih dilakukan pada saat pulang ke Tanah Suci?

Sahabat surgaku, berikut kiat menjaga kualitas “kemabruran” hajinya, biar mabrur selamanya dengan *CINTA* … ( *C* ari, *I* ringi, *N* ikmati, *T* aati, *A* mankan).

*Cari 1000 alasan untuk terus menjaga niat baik karena Allah secara konsisten dalam beribadah dan beramal.*

Niat baik ini sama dengan niat haji yang semata-mata dilakukan karena Allah SWT dan bukan karena manusia.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat.” (HR. Bukhari-Muslim).

*Iringi hidup dengan amalan kesucian (ketakwaan) dan ketegaran dengan baik.*

Dua pilar ini merupakan hasil yang didapatkan setelah melakukan sa’i yang senantiasa dimulai dari Shafa (berarti kesucian) dan Marwa (ketegaran).
Allah SWT berfirman, “Sungguh, Shafa dan Marwa merupakan sebagian dari syiar Allah.” (QS. Al-Baqarah: 158).

*Nikmati hidup dalam lingkaran tauhid dan lingkaran ketuhanan dalam menjalani kehidupan.*

Sikap ini merupakan falsafah thawaf yang senantiasa berlomba-lomba berada dalam lingkaran ketuhanan bersama orang-orang saleh dan menyegerakan diri dalam kebajikan (QS. Al Hajj: 26).

*Taati Allah dengan sungguh-sungguh, supaya hidup selalu ada jalan kemudahan atau solusi dari Allah.*

Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Ankabut ayat 69, “Dan orang yang bersungguh-sungguh (jihad) untuk (mencari keridhoan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”

*Amankan pahala mabrur dengan tidak riya' dan sum’ah.*

Jika amal haji yang sudah kita lakukan terus tidak di amankan (dijaga) dari penyakit hati riya' dan sum'ah sungguh kita akan merugi.

Imam Bukhari di dalam Shahih-nya membuat bab Ar Riya’ was Sum’ah dengan membawakan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللهُ بِهِ . وَمَنْ يُرَائِيْ يُرَائِي اللهُ بِهِ

“Barangsiapa memperdengarkan (menyiarkan) amalnya, maka Allah akan menyiarkan aibnya, dan barangsiapa beramal karena riya’, maka Allah akan membuka niatnya (di hadapan orang banyak pada hari Kiamat)”. [HR Bukhari no. 6499 dan Muslim no. 2987 dari sahabat Jundub bin Abdillah].

Yang dimaksud riya’ dan sum’ah ialah, riya’ berarti beramal karena diperlihatkan kepada orang lain. Sedangkan sum’ah ialah, beramal supaya diperdengarkan kepada orang lain. Riya’ berkaitan dengan indera mata, sedangkan sum’ah berkaitan dengan indera telinga.

Semoga bermanfaat, menjadikan mabrur hajinya memandu sikap makin taat dan hidup bermartabat.

Arafah, 9 Dzulhijjah 1439 H/20 Agustus 2018
Lili Chumedi
Pembimbing Umroh Haji Mihrab Qolbi
Sahabat Berbagi Peduli bersama Yayasan PINTAR Indonesia

 

 

ORANG YANG TAK TERSENTUH API NERAKA !

Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Maukah kalian aku tunjukkan orang yang Haram baginya tersentuh api neraka?" Para sahabat berkata, "Mau, wahai Rasulullah!"

Beliau menjawab: "( yang Haram tersentuh api neraka adalah) orang yang Hayyin, Layyin, Qarib, Sahl." (HR. At-Tirmidzi & Ibnu Hibban, dishahihkan Al-Albani).

▶1. Hayyin

Orang yang memiliki ketenangan dan keteduhan lahir maupun batin. Tidak labil dan gampang marah, penuh pertimbangan. Tidak mudah memaki, melaknat serta teduh jiwanya.

▶ 2. Layyin

Orang yang lembut dan santun, baik dalam bertutur-kata atau bersikap. Tidak kasar, tidak semaunya sendiri. Tidak galak, tidak suka memarahi orang yang berbeda pendapat dengannya. Tidak suka melakukan pemaksaan pendapat. Lemah lembut dan selalu menginginkan kebaikan untuk sesama manusia.

▶ 3. Qarib

Akrab, ramah diajak bicara, menyenangkan bagi orang yang diajak bicara. Wajah yang berseri-seri dan murah senyum jika bertemu serta selalu menebar salam.

▶ 4. Sahl

Orang yang tidak mempersulit sesuatu. Selalu ada solusi bagi setiap permasalahan. Tidak suka berbelit-belit, tidak menyusahkan dan tidak membuat orang lain lari serta menghindar.

Inilah BINGKAI AKHLAK YANG MULIA !

Bulan Dzulhijjah perbanyak amal Soleh... 

Jazakumullahu khairan katsira u sedekah dan wakafnya....

Lili Chumedi

Pembimbing Ibadah Umroh Haji Mihrab Qolbi

Sahabat Berbagi PINTAR

Mendulang Mutiara Di Tanah Suci (Bag. 1)

Ibadah haji, sebagai rukun Islam yang kelima memiliki kedudukan sangat istimewa dalam hati setiap muslim. Ibadah yang diwajibkan hanya sekali seumur hidup ini sarat dengan pelajaran dan mutiara hikmah berharga, yang seharusnya dipahami oleh setiap muslim, khususnya mereka yang mendapat taufik dari Allah untuk menginjakkan kaki di tanah suci.

 

Allah Ta’ala menempatkan rangkaian ibadah haji di tempat mulia yakni tanah haram, dan pada saat mulia, yakni bulan Dzulhijjah salah satu bulan haram. Kemudian mengistimewakan 10 hari awal bulan Dzulhijjah sebagai hari-hari paling mulia, sebagaimana Allah menjadikan 10 malam terakhir bulan Ramadhan sebagai malam-malam yang paling mulia, dimana amal ibadah pada hari dan malam termulia tersebut dilipatgandakan.

 

Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Demi Fajar. Dan Malam Yang Sepuluh. Dan yang genap dan yang ganjil.” (QS. Al-Fajr: 1-3).

Malam yang sepuluh maksudnya adalah sepuluh awal Dzulhijjah. Sesuai pendapat yang shahih dari ulama tafsir, dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid radhiyallahu ‘anhum, dan banyak ulama salaf dan khalaf. (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 8, hal. 390).

 

Pendapat ini dikuatkan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Tiada hari-hari dimana amal shaleh di dalamnya lebih dicintai Allah selain hari-hari ini (sepuluh awal Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad?”, beliau menjawab: “Tidak pula jihad, melainkan seseorang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatupun (dari keduanya).” (HR. Bukhari: 969).

 

Lalu dari sepuluh awal Dzulhijjah, Allah Ta’ala memuliakan dua hari, yakni hari yang genap dan yang ganjil. Hari yang genap adalah 10 Dzulhijjah atau yang dikenal dengan al-hajjul akbar, sedangkan hari yang ganjil adalah 9 Dzulhijjah, atau hari Arafah. (Tafsir Ibnu Katsir: jilid 8, hal. 391).

 

Tidaklah Allah memuliakan ibadah pada hari atau malam tertentu, melainkan banyak fadhilah dan mutiara hikmah bertebaran padanya.

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Hikmah Haji Mihrab #1

Menarik direnungkan ayat berikut dan kita ambil hikmahnya :

( 197 ) (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.

Surat al Baqarah ayat 197 ini setidaknya mengajak para tamu Allah supaya menyadari posisi dan bawaan diri. Jika tidak sadar posisi bahwa kita diundang Allah berhaji lisan dan perbuatannya akan diisi hal-hal yang merusak pahala haji...

Antara lisan dan perbuatan saat sudah menuju haji, Allah sandingkan dengan bekal bawaan.. Iya Allah mengingatkan sebaik-baik bekal adalah taqwa bukan harta atau statuta.

Jika seseorang bekalnya bukan taqwa yang ada ingin dimuliakan karena harta atau statuta... Ujungnya tamu Allah yang demikian adanya ia hanya akan dapat dunia, akhirat jauh dari harapan yang ada...

Saya alhamdulillah sudah banyak melihat hasil nyata mereka yang berhaji hanya karena harta dan statuta hasilnya sungguh sangat menderita...

Semoga Allah selalu menjadi tujuan kita dalam berhaji, sehingga setiap diri makin bisa mensujudkan hati pada ILAHI ...

Soetta, 3 Dzulhijjah 1439 H
14 Agustus 2018

Lili Chumedi
Pembimbing Ibadah Umroh Haji Mihrab Qolbi
Sahabat Berbagi Pintar Peduli

Bismillaahirrahmaanirraahiim

Hikmah Haji Mihrab #2

Tidak mudah memang meyakini suatu kebaikan sebut saja shadaqoh itu akan mendatangkan kebaikan dari Allah. Apalagi jika kesehariannya dimudahkan oleh fasilitas, apakah itu karena jabatan atau karena kepemilikan.

Mereka yang duniawinya banyak kemudahan jika tidak diimbangi dengan kesadaran ibadi (hamba) pada Allah cenderung berat meyakini shadaqoh (kebaikan) akan mendatangkan pertolongan Allah (kebaikan pula).

Beliau sudah sejak awal memesan tiket bisnis saat keberangkatan, satu dan lain hal rupanya pesawat yang akan dinaikinya ganti pesawat dan jam keberangkatan. Otomatis berubahlah posisi kursi bisnis yang dipesannya.

Pihak travel terus berusaha sampai titik maksimal. Terjadilah perubahan tiket dari bisnis ke ekonomi lalu akhirnya bisa kembali ke bisnis di detik-detik panggilan akhir boarding. Subhanallah bapak tersebut begitu bahagia mendengar kabar tersebut.

Saat bersamaan sebelum tiket bisnisnya keluar rupanya beliau mendapat sms terima kasih atas donasi shadaqohnya dari Pintar Peduli... Baru sms itu masuk (isinya do'a dan terima kasih)... Lalu datang kabar bahwa tiket bisnis pesawatnya untuk berangkat dan pulang sdh di print out... Subhanallah nangis beliau....

Karunia Allah tidak tertukar...
Kebaikan Allah datang kebaikan yang nilainya jaaauuuh diatas kebaikan makhluknya...

Semoga bermanfaat..

Mekkah, 15 Agustus 2018

Lili Chumedi
Sahabat Pintar Peduli
Pembimbing Umroh Haji Mihrab Qolbi

FOTO - FOTO PERJALANAN HIKMAH HAJI 2018 BERSAMA UST. LILI CHUMEDI

UNTUK INFORMASI DAN PENDAFTARAN HAJI DAN UMROH
HUBUNGI :

 

PT. MANAJEMEN MIHRAB QOLBI
Izin Umroh : Nomor 92 Tahun 2016
Izin Haji     : Nomor 382 Tahun 2017
 


Kantor Jakarta 
Jl. Tebet Barat VIII No. 27 Tebet, Jakarta Selatan 12810
Telp : 021 837 95 216
Kanto :  0856-2490-6654
Yetty   : 0812-2224-904
 

Kantor Bandung 
Jl. Cemara No. 9 Sukajadi Kota Bandung
Telp : 022 203 2204
Depi   : 0838 2003 3353

Kantor Cirebon
Jl. Dr. Ciptomangunkusumo No. 165 Kota Cirebon
Telp : 0231 204 081
Ibu Yeyet :  0819 0602 5345
Ichsan      : 0821 2249 8775
Jaka         : 0812 2289 5185

 

PEMBAYARAN  :

BANK MANDIRI Cab Tebet Barat

Nomor Rekening 

    Rek Rupiah : 124.000.7315.840

    Rek Dollar : 124.000.7315.873

    an. PT MANAJEMEN MIHRAB QOLBI

PROGRAM / PAKET UMROH MIHRAB QOLBI TRAVEL

BULAN OKTOBER 2018

13 - 21 Oktober 2018 by Oman Bintang 4

13 - 22 Oktober 2018 by Turkish plus City Tour Istanbul Bintang 4

18 - 26 Oktober 2018 by Saudi Airlines Bintang 5

28 Oktober - 5 November 2018 by Saudi Airlines Bintang 5

28 Oktober - 5 November 2018 by Oman Bintang 4

28 Oktober - 6 November 2018 by Garuda  Bintang 4 Plus Turkey

BULAN NOVEMBER 2018

3 - 11 November 2018 by Saudi Airlines Bintang 5

3 - 11 November 2018 by Saudi Airlines Bintang 4

6 - 15 November 2018 by Turkish Bintang 4

20 - 29 November 2018 by Turkish Bintang 4

 

BULAN DESMBER  2018

24 Desember 2018 - 01 Januari 2019 by Garuda Bintang 4

25 Desember 2018 - 02 Januari 2019 by Garuda Bintang 5

 

 

Artikel / Berita Favorit :
1. Testimoni dari Ibu Nazla
2. Rangkaian Perjalanan Umroh Tahun 2018
3. Perjalanan Umroh Plus Al Aqsho
4. Perjalanan Umroh Plus Turki
5. Manasik Umroh di Balai Kartini Jakarta

 

 

 

*Arafah, Inabah dan Barokah*

Khutbah Arafah Haji 2018/1439 H
Oleh : H. Lili Chumedi S.Ag., M.Pd.I.

_Labbaika Allahumma Labbaik; Labbaika laa Syarika laka labbaik_ 
Hadirin yang dimuliakan Allah.

Saya teringat kalau berkumpul sekian banyak hamba-hamba Allah yang dikumpulan di padang Arafah hari ini dengan salah satu firman Allah dalam surat al Hajj ayat 27, yang artinya :
“Dan berserulah kepada seluruh manusia untuk mengerjakan haji….” Begitu potongan awal ayatnya..

Firman-Nya: wa adz-dzin fin naasi bil hajji (“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji,”) yaitu yang menyeru manusia untuk berhaji serta mengajak mereka untuk haji. Lalu, diceritakan bahwa Ibrahim berkata: “Ya Rabbku, bagaimana aku menyampaikan hal ini kepada manusia sedangkan suaraku tidak dapat menjangkau mereka?” Allah berfirman: “Berserulah, dan Aku yang akan menyampaikan.” Maka, Ibrahim berdiri di maqamnya, [satu pendapat mengatakan] di atas sebuah batu, yang lain mengatakan, di atas bukit Shafa dan yang lain mengatakan di atas Jabal Abu Qubaisy. Ibrahim berseru: “Hai manusia, sesungguhnya Rabb kalian telah menjadikan sebuah rumah maka berhajilah kalian.”

Disinilah kita menyadari dengan IMAN… bahwa kita bisa haji dan hari ini berkumpul di padang Arafah bukan karena kita mampu namun karena Allah memampukan dan mengundang kita.

Sampai-sampai ditegaskan saat kita menjawab undangan haji Allah dengan lafal talbiyah, “Bahwa saya menjawab undangan haji ini tidak menyekutukan Allah, saya pun menjawab undangan haji ini datang dengan penuh ketundukan bahwa saya haji tidak ingin pujian apalagi penghargaan, karena pujian dan penghargaan itu hanya milik Allah. Saya berhaji juga mengakui bahwa nikmat ini semua karena Allah bukan karena saya punya harta, kedudukan ataupun apapun karena semua itu yang mempunyai kekuasaan hanya Allah semata.”

Inilah kesadaran IMAN… pengakuan totalitas diri dengan haji diri bahwa semua itu karena karena karunia Allah Azza wa Jalla… kita ini tidak punya apa-apa…

_Labbaika Allahumma Labbaik; Labbaika laa Syarika laka labbaik_ 
Hadirin yang dimuliakan Allah.

Hari ini kita alhamdulillah hadir di padang Arafah yang banyak sekali kemuliaannya.

Pertama: *Hari Arafah adalah hari disempurnakannya agama dan nikmat.* Dalam shahihain (Bukhari-Muslim), ‘Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa ada seorang Yahudi berkata kepada ‘Umar,
“Ada ayat dalam kitab kalian yang kalian membacanya dan seandainya ayat tersebut turun di tengah-tengah orang Yahudi, tentu kami akan menjadikannya sebagai hari perayaan (hari ‘ied).” “Ayat apakah itu?” tanya ‘Umar. Ia berkata, “(Ayat yang artinya): Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” ‘Umar berkata, “Kami telah mengetahui hal itu yaitu hari dan tempat di mana ayat tersebut diturunkan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berdiri di ‘Arofah pada hari Jum’at.” (HR. Bukhari no. 45 dan Muslim no. 3017). At Tirmidzi mengeluarkan dari Ibnu ‘Abbas semisal itu. Di dalamnya disebutkan bahwa ayat tersebut turun pada hari ‘Ied yaitu hari Jum’at dan hari ‘Arofah.

Kedua : *Hari Arafah adalah hari pengampunan dosa dan pembebasan dari siksa neraka.* Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arofah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” (HR. Muslim no. 1348).

*Allah pun begitu bangga dengan orang yang wukuf di Arafah.* Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah berbangga kepada para malaikat-Nya pada sore Arafah dengan orang-orang di Arafah, dan berkata: “Lihatlah keadaan hambaku, mereka mendatangiku dalam keadaan kusut dan berdebu” (HR. Ahmad 2: 224. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya tidaklah mengapa).

Hadirin rahimakumullah,
_Labbaikallahumma labbaik, labbaika lasyarikalaka labbaik._

Hebatnya arafah sejatinya mengajak pada kita kembali pada Allah (inabah).

Berikut dalil yang menunjukkan bahwasanya inabah merupakan ibadah adalah perintah Allah dalam Kitab-Nya,
“Dan kembalilah kalian kepada Rabb kalian dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang kepada kalian azab kemudian kalian tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. az-Zumar: 54)

Hadirin rahimakumullah,
_Labbaikallahumma labbaik, labbaika lasyarikalaka labbaik._

Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang haji yang mabrur. Jawaban beliau,

إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الْكَلاَمِ

“Suka bersedekah dengan bentuk memberi makan dan memiliki tutar kata yang baik” (HR. Hakim)

Apakah konsistensi dalam beribadah, berdoa, dan bertawakal selama haji masih dilakukan pada saat pulang ke Tanah Suci?

Sahabat surgaku, berikut kiat menjaga kualitas “kemabruran” hajinya, biar mabrur selamanya dengan *CINTA* … ( *C* ari, *I* ringi, *N* ikmati, *T* aati, *A* mankan).

*Cari 1000 alasan untuk terus menjaga niat baik karena Allah secara konsisten dalam beribadah dan beramal.*

Niat baik ini sama dengan niat haji yang semata-mata dilakukan karena Allah SWT dan bukan karena manusia.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat.” (HR. Bukhari-Muslim).

*Iringi hidup dengan amalan kesucian (ketakwaan) dan ketegaran dengan baik.*

Dua pilar ini merupakan hasil yang didapatkan setelah melakukan sa’i yang senantiasa dimulai dari Shafa (berarti kesucian) dan Marwa (ketegaran).
Allah SWT berfirman, “Sungguh, Shafa dan Marwa merupakan sebagian dari syiar Allah.” (QS. Al-Baqarah: 158).

*Nikmati hidup dalam lingkaran tauhid dan lingkaran ketuhanan dalam menjalani kehidupan.*

Sikap ini merupakan falsafah thawaf yang senantiasa berlomba-lomba berada dalam lingkaran ketuhanan bersama orang-orang saleh dan menyegerakan diri dalam kebajikan (QS. Al Hajj: 26).

*Taati Allah dengan sungguh-sungguh, supaya hidup selalu ada jalan kemudahan atau solusi dari Allah.*

Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Ankabut ayat 69, “Dan orang yang bersungguh-sungguh (jihad) untuk (mencari keridhoan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”

*Amankan pahala mabrur dengan tidak riya' dan sum’ah.*

Jika amal haji yang sudah kita lakukan terus tidak di amankan (dijaga) dari penyakit hati riya' dan sum'ah sungguh kita akan merugi.

Imam Bukhari di dalam Shahih-nya membuat bab Ar Riya’ was Sum’ah dengan membawakan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللهُ بِهِ . وَمَنْ يُرَائِيْ يُرَائِي اللهُ بِهِ

“Barangsiapa memperdengarkan (menyiarkan) amalnya, maka Allah akan menyiarkan aibnya, dan barangsiapa beramal karena riya’, maka Allah akan membuka niatnya (di hadapan orang banyak pada hari Kiamat)”. [HR Bukhari no. 6499 dan Muslim no. 2987 dari sahabat Jundub bin Abdillah].

Yang dimaksud riya’ dan sum’ah ialah, riya’ berarti beramal karena diperlihatkan kepada orang lain. Sedangkan sum’ah ialah, beramal supaya diperdengarkan kepada orang lain. Riya’ berkaitan dengan indera mata, sedangkan sum’ah berkaitan dengan indera telinga.

Semoga bermanfaat, menjadikan mabrur hajinya memandu sikap makin taat dan hidup bermartabat.

Arafah, 9 Dzulhijjah 1439 H/20 Agustus 2018
Lili Chumedi
Pembimbing Umroh Haji Mihrab Qolbi
Sahabat Berbagi Peduli bersama Yayasan PINTAR Indonesia



Umum Lainnya



Berikan Komentar Via Facebook